Selasa, 12 Maret 2024

Cerpen berjudul "Akal, Keinginan dan Penyesalan"

Akal, Keinginan dan Penyesalan.

Cerpen Karya : Fatkhu Rohman

 

Ini adalah cerita utuh yang dilihat dari tiga kacamata yaitu kacamata akal, kacamata keinginan, dan kacamata penyesalan.

Kacamata Akal

“Apa maumu? Bukankah ini yang kamu inginkan?” keinginan membalas pertanyaan yang dilontarkan oleh akal dengan merengek “iya, tapi ini beda,,, aku emang mau kuliah, tapi kenapa ada norma-norma tak terlihat mengikat ku? Aku mau bebas... kamu ngerti ga sih?” akal merespon dengan kecewa “apakah kamu mau bilang bahwa aku tidak mampu menunjukkan jalan yang terbaik untukmu? Baik, kalo itu maumu,,, pilihlah jalan mu sendiri... aku akan terus mengikutimu asalkan kamu menyukainya, walaupun itu mungkin akan sangat menyiksaku, merendahkanku, dan membuatku merasa tidak berguna...”

Aku dan keinginan sudah lama bersama, baru kali ini terjadi sebuah dialog yang menguras tenaga dan fikiran. Dia pernah memintaku untuk membuat puisi yang indah untuk mengkerdilkan teman yang menyakitinya. Karena dia pernah merasa tersakiti oleh nurani. “perlu kamu tahu ya, kamu adalah makhluk rendahan yang menginginkan segala sesuatu hingga aku tak mampu membedakan mu dengan tamak. Apakah kamu benar keinginan yang aku kenal selama ini? Kenapa kamu seperti tamak dan serakah yang mengambil segala sesuatu yang bisa kamu ambil. Bukankah itu sangat egois sekali? Tidak sadarkah kamu bahwa keegoisan dapat menghancurkan sebuah tali persahabatan bahkan tali persaudaraan?” itulah yang dikatakan nurani kepada keinginan. sehingga keinginan sangat membenci nurani. “aku ngerti kok, kamu adalah kamu. Kamu ga mungkin menjadi tamak ataupun serakah. Tapi, kamu harus memahami kenapa nurani berkata seperti itu. Mungkin nurani sudah lelah dengan tamak dan serakah, lalu melampiaskannya kepadamu. Itu juga bukan sepenuhnya salah nurani. Kamu tahukan tamak dan serakah kadang juga terlahir dari kamu. Terkadang kamu juga yang melahirkan tamak dan serakah. Kita sama-sama mengoreksi dirilah. Kamu juga harus berusaha agar tamak dan serakah tidak terlahir, agar nurani juga tidak kesal kepadamu. Kamu ngerti kan?” keinginan menjawab dengan sewot “jadi kamu berpihak pada nurani?” “bukan begitu, kita harus melihat segala sesuatu dari kacamata objektif agar pikiran menjadi jernih dan kita dapat mengambil keputusan yang tepat. Karena, saat kita mengmbil keputusan dalam kondisi marah atau terlalu senang pastilah hasil keputusan tersebut kurang baik. Kamu ngerti kan? Jadi fokus puisi kita cukup pada keindahan saja, bukannya untuk mengkerdilkan nurani” kataku dengan sabar. Segera aku carikan referensi puisi puisi yang indah untuk mengobati keinginan. Aku pelajari ciri ciri puisi yang indah. Aku cari arti dari keindahan. cukup lama waktu yang aku habiskan untuk riset tenang puisi indah. Dari semua pengetahuan yang aku dapat, aku diskusikan dengan keinginan. Kami tenggelam dalam hangatnya percakapan hingga tak terasa waktu 2 sampai 3 jam kita habiskan dalam kehangatan tersebut. Sungguh suasana yang indah dan nyaman menyelimuti kami. Aku tak akan pernah melupakan suasana dan momen itu. Hingga munculah sebuah mahakarya yang luar biasa. Kami sangat mencintai karya tersebut. Kami selalu menikmati karya kami tersebut setiap waktu. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam berlalu dengan kenikmatan karya yang telah kami ciptakan. Setiap makan kami menikmati karya tersebut. Bahkan dalam lamunan kami juga masih menikmati karya tersebut.

Dia juga pernah memintaku untuk meninggikannya. “aku ingin punya masa depan, aku tak mau dipandang remeh. Aku ingin membuat kedua orang tuaku bangga. Menurut mu bagaimana? Apakah kita bisa mencapai semua itu?” tanya keinginan kepadaku. “ingat ya, meninggikanmu terlalu tinggi dapat melahirkan kesombongan. Kamu sadarkan dengan hal itu?” itu kalimat pertama yang terucap dariku saat aku melihat terdapat indikasi bahwa keinginan akan melenceng dari jalurnya. “sedih banget tau kamu bilang gitu. Tapi oke deh, aku ngerti kok... ga bakal deh kesombongan lahir karena permintaanku.. aku janji..” Dengan percaya diri aku sampaikan kepada keinginan “okelah kalau begitu, semua itu bisa direncanakan, untukmu apapun aku lakukan. Tetapi ada beberapa pertimbangan yang tidak bisa aku ambil sendiri, ini butuh proses yang lama, apakah kamu yakin mau menunggu proses yang begitu lama?” “tak masalah, asalkan bersamamu aku merasa tenang. Waktu hanyalah lintasan yang pada akhirnya akan berakhir pula” sahut keinginan dengan nada penuh harap dan kenyamanan. Segera aku buatkan segala yang dibutuhkan untuk meninggikan keinginan. Ini adalah sesuatu yang tidak mudah. Kita perlu berlatih bersama, ini akan menjadi siksaan yang cukup besar bagi keinginan. Tapi aku yakin, aku bisa menenangkan keinginan. Karena ini adalah kemauannya sendiri.

Aku mulai mendisiplinkan diri. Aku mulai hari ku di pagi-pagi buta. Aku mulai belajar dengan giat. Aku mencari tips-tips untuk mencapai tujuan. Aku juga meminta keinginan untuk berserah diri terhadap apapun yang terjadi. Aku meminta kenginan agar menguatkan keyakinannya kepadaku. Aku mencari-cari beasiswa agar tujuan ku tercapai. Kutemukan beberapa opsi yang bisa aku jalankan untuk mencapai tujuan. Aku terus memperkaya opsi agar tujuan dapat aku bidik dengan berbagai cara. Apabila cara pertama tidak tepat sasaran aku masih punya banyak opsi untuk membidik tujuan tersebut. Setelah aku kumpulkan, aku mendapatkan sekitar 7 opsi. Opsi pertama sudah coba ku lalui dan ternyata bidikan ku meleset. Opsi ku tinggal 6, aku harus memanfaatkan dengan baik 6 opsi terakhir ku. Aku gunakan 2 opsiku secara bersamaan untuk membidik tujuan. dan segera aku menyungkurkan diriku ke hadapan rabb ku setelah mengetahui 2 bidikanku mengenai sasaran. Berulang kali aku bersujud ke pada rabb ku untuk menunjukkan rasa syukur dan bahagiaku karena tujuan tersebut tercapai. Ku ceritakan semua ini dengan sukacita kepada keinginan. Segera aku peluk keinginan dan ku bisikkan ketelinga nya lembut dan penuh kasih “tahap pertama untuk mencapai tujuan kita sudah tercapai, aku yakin kita dapat melalui ini semua dengan mudah. Meskipun masih banyak tahap yang perlu kita lalui bersama. Bersabarlah wahai keinginan, kita pasti bisa mencapainya bersama. Aku ingin, kamu terus mendukungku dan memperhatikan setiap langkahku. Karena setiap langkahku aku persembahkan hanya untukmu” tanpa sadar keinginan meneteskan air mata bahagia dan harunya dan menganggukkan kepalanya tanda persetujuan.

Tergores kuat dalam ingatan keinginan menyampaikan kepada ku “sepertinya kita haus menjadi pribadi tangguh, mandiri, dan pekerja keras. Itulah yang mau aku lihat pada semua mata melihatku. Menurutmu bagaimana akal? Apakah kita bisa?” “em,,, gimana ya, pr kita masih banyak nih. Tapi untukmu apapun aku lakukan. Bentar ya aku rencanakan dulu, bagaimana cara meraihnya” sahutku sambil melihat sudut-sudut ruangan mencari ide. Ku kumpulkan segala informasi yang ada dan mulai menganalisa kemungkinan kemungkinan yang bisa dilakukan. Hingga aku putuskan untuk berjualan roti sambil ngampus. Saat berjualan banyak kerjasama yang saya lakukan, aku mulai bekerjasama dengan pengetahuan dan mental. Yang paling mendukungku dalam berjualan adalah mental. Banyak pembelajaran yang didapatkan dari mental. Sungguh perjalanan yang luar biasa. Satu lagi tujuan ku dan keinginan sudah tercapai. Keinginan memelukku dari belakang dan membisikkan ke telingaku “terimakasih, aku bangga punya kamu” entah kenapa setiap momen yang seperti ini pelukan adalah bahasa yang tepat untuk menyatakan kasih sayang yang kami rasakan.

Itulah keinginan, Dia selalu berterimakasih atas setiap jalan yang aku berikan. Terkadang, aku harus memarahinya untuk menunjukkan jalan yang lurus,,, sakit, itulah yang aku rasakan saat mematahkan keinginan yang menyesatkan. Walaupun begitu, aku tetap ingin melihatnya bahagia dengan segala apa yang dia miliki. Ingin rasanya kuberikan segala apa yang ku milliki untuk membuatnya bahagia.

Itu semua sudah terjadi, kami bukan siapa-siapa lagi. Sekarang, Aku hanyalah penonton yang melihat indahnya perjalanan keinginan dalam menemukan kebahagiaan. Aku bukan siapa-siapa lagi. Tak ada lagi keinginan yang selalu mendengarkanku. Aku hanyalah sampah yang tak berguna dengan cintaku yang tak tergantikan kepada keinginan. Itulah keinginan, mungin ini waktu bagi keinginan tidak lagi mau didekte. Dia sudah dewasa dengan segala apa yang dimilikinya. Akulah akal yang selalu ada apabila keinginan membutuhkanku. Saat ini, aku tak lagi berguna. mengubur diriku ke tempat yang tak pernah dijamah oleh siapapun mungkin adalah pilihan terbaik.

Kacamata Keinginan

“kenapa sih kamu terus mengikuti ku? Capek tau, aku mau bebas, kamu ga ada kerjaan ya? Kamu tau sumpek ga sih? Aku risih tau.”

“ga tau kenapa, aku suka sama kamu. Salah ya aku suka sama kamu? Aku pengen ikut kemanapun kamu pergi. Bersamamu, aku merasa diperhatikan, bersamamu aku merasa ada. Bersamamu aku diakui. Tak ada orang lain yang mau mengakui keberadaanku sebesar kamu. Aku ga mau jauh dari kamu.” Jawab penyesalan.

Itu perdebatan yang sering terjadi antara aku dengan penyesalan. Ternyata berpisahnya aku dengan akal malah menambah masalah baru.  Aku mengiria akan merasa bahagia saat berpisah dengan akal. Saat bersama akal dia terus mengatur-atur ku. Aku tahu tujuannya baik, tapi ya ga segitunyalah seharusnya. Aku juga punya keinginan untuk bebas. Sebenarnya, perpisahanku dengan akal dipicu oleh kecemburuanku terhadap akal. Terkadang aku melihat akal berjalan dengan penyesalan. Puncak perpisahan kami juga terjadi saat akal semakin sering jalan bersama dengan penyesalan.

Sekarang, aku tahu rasanya diikuti oleh penyesalan. Inilah yang dirasakan oleh akal, tapi aku tak mau mengerti apa yang dirasakannya. Seharusnya kami saling memahami agar tidak terjadi masalah-maslah seperti ini. Dari pada aku harus bersama dengan penyesalan. Mungkin ada baiknya aku mulai merajut kembali hubungan ku dengan akal. Aku yakin akal akan menerimaku. Karena, aku tahu akal akan terus ada untukku.

“akal... akal... dimana kamu??? Aku merindukanmu... aku janji aku akan selalu mendengarkanmu. Aku janji kita akan menjadi pasangan yang terbaik yang pernah ada” “keinginan,,, itukah kamu?” jawab akal. “Aku menunggumu keinginan. Tanpamu, aku tak tau harus kemana. Tak ada lagi tujuan yang mampu menggerakkanku. Karena, kamu adalah tujuanku. Apakah ini akan menjadi cerita baru bagi kisah kita? Terimakasih keinginan karena telah mempercayakan dirimu pada ku. Takkan ku sia-siakan kepercayaan yang telah kau berikan padaku. Akan ku tunjukkan jalan yang indah. Yang belum pernah kamu lewati. Akan aku buat jalan yang kita lewati bagai jalan menuju ke surga karena keindahannya. Sungguh cintaku padamu melampaui apapun yang ada di dunia ini. Kita akan berjalan dalam keharmonisan. Berilah aku masukan jika jalan yang aku berikan mematahkan hatimu. Sungguh, tak ada niatan sedikitpun untuk melukaimu. Aku hanya ingin kita bisa berjalan beriringan untuk menggapai mu. Tegurlah aku saat aku terlalu keras saat meluruskanmu. Sungguh kebahagiaanmu adalah tujuan terbesarku.”

Kacamata Penyesalan

tak seorangpun mau menerima keberadaanku. Aku adalah ketiadaan. Semua itu terasa berbeda saat aku mengenal akal. Aku sering mengikuti akal. Sering kali aku mengganggu akal saat dia sedang luang. Aku sering menghampirinya, yang membuatku senang adalah dia menganggap keberadaanku. Itu membuatku merasa ada dan berniali. Kami sering ngobrol bareng. Mungkin dia tidak mau mengobrol denganku. Dalam keadaan terpaksa, diapun mau berbicara dengan ku. Aku anggap itu sebagai obrolan yang mesra, meskipun itu lebih ke pemaksaan. Biarlah aku memaksanya, karena dengan begitu aku merasa ada dan bernilai. Semakin ke sini, semakin aku mengenali akal. Aku tau kapan aku bisa memaksanya untuk akrab denganku dan aku tahu kapan dia sama sekali tidak mau aku ganggu. Aku merasakan sakit yang luar biasa, saat akal selalu mencari soulusi agar dapat membahagiakan keinginan. Tapi, aku tahu bahwa rasa sakit itu lebih baik dari pada rasa ketiadaan dan rasa tidak bernilai. Meskipun aku merasa sakit, tapi keberadaanku masih diakui walaupun sangat sedikit. Akal, aku ingin kamu tahu. Bahwa aku sangat senang sekali kamu bertengkar dengan keinginan. Ingin aku berteman dengan mu dengan seutuhnya. Tapi apa daya, cintamu terhadap keinginan jauh lebih besar dari apapun. Kamu terus menghormatinya walaupun kamu direndahkannya. Kamu terus mencintainya walupun ribuan pisau mengarah ke dadamu. Aku tahu, keinginan adalah tujuanmu. Karena itu, kamu rela mengubur dirimu ke tempat yang tak seorangpun tau agar keinginan dapat bebas dan mendapatkan kebahagiaannya. Aku kira ini adalah akhir dari dariku juga. Karena hanya kamulah temanku.

Hari demi hari terlewati dengan kekosongan. Aku merasa hampa, aku merasa tiada. Sungguh ketiadaan adalah kondisi yang sangat menyeramkan. Setelah kepergian akal dalam kuburnya. Kucoba dekati keinginan. Aku mulai mengikutinya kemanapun ia pergi. Aku belum bisa mengajaknya berkomunikasi. Tapi setidaknya dengan terus mengikutinya. Dia akan merasakan keberadaanku. Hari itupun tiba juga. Kami bisa saling mengobrol. Dan ternyata, keinginan lebih mudah menerimaku dari pada akal. Keinginan tidak pernah mencari solusi saat bertemu denganku. Keinginan justru menikmati segala situasi yang aku ciptakan. Padahal solusi adalah salah satu yang membuatku merasa sakit. Aku merasa aku tak ada jika solusi hadir. Sukurlah, mungkin ini adalah jalan terbaik untukku. mungkin keinginan adalah pasangan sejatiku.

Hingga pada titik tertentu, keinginan benar-benar menjadi teman sejatiku. Dibalik itu semua, keinginan mulai sadar. Bahwa hidupnya tidak lebih baik dari sebelumnya. Saat ini lah, keinginan mulai menolak ku. Semenolak-menolaknya keinginan masih lebih baik daripada semenerima-nerimanya akal. Karena, saat akal sudah mulai menerimaku, akal langsung segera mencari solusi. Dan itu adalah rasa sakit yang sangat luar biasa. Sungguh keberuntunganku dapat bertemu dan berteman dengan keinginan.

Ternyata tidak sampai disini saja keinginan menolakku. Keinginan akan memanggil akal kembali. Walaupun bagitu, aku tetap senang. Setiadaknya ada yang lebih mudah dipengaruhi dari pada akal yaitu keinginan. Jika sebelumnya dalam hubungan akal dan keinginan. aku bertemu dengan akal dan akal selalu menyiksaku dengan segala solusi yang ia cari. Maka aku tidak akan pernah tersakiti oleh keinginan. Karena keinginan tidak pernah mencari solusi. Yang keinginan cari hanya akal. Karena akal yang akan membimbingnya ke jalan yang lurus. Meski keinginan selalu melalui jalan yang lurus. Aku yakin sangat bisa sekali berteman dengan keinginan. Akal akan terus membuatmu merasa sakit karena akal akan terus meluruskanmu. tapi aku akan selalu ada pada dirimu yang selalu menemanimu untuk terus membuat dirimu merasakanku setiap saat. Selamat keinginan, sekarang kita akan berteman untuk selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar