Akal,
Keinginan dan Penyesalan.
Cerpen Karya : Fatkhu Rohman
Ini
adalah cerita utuh yang dilihat dari tiga kacamata yaitu kacamata akal,
kacamata keinginan, dan kacamata penyesalan.
Kacamata Akal
“Apa
maumu? Bukankah ini yang kamu inginkan?” keinginan membalas pertanyaan yang
dilontarkan oleh akal dengan merengek “iya, tapi ini beda,,, aku emang mau
kuliah, tapi kenapa ada norma-norma tak terlihat mengikat ku? Aku mau bebas...
kamu ngerti ga sih?” akal merespon dengan kecewa “apakah kamu mau bilang bahwa
aku tidak mampu menunjukkan jalan yang terbaik untukmu? Baik, kalo itu maumu,,,
pilihlah jalan mu sendiri... aku akan terus mengikutimu asalkan kamu
menyukainya, walaupun itu mungkin akan sangat menyiksaku, merendahkanku, dan
membuatku merasa tidak berguna...”
Aku
dan keinginan sudah lama bersama, baru kali ini terjadi sebuah dialog yang
menguras tenaga dan fikiran. Dia pernah memintaku untuk membuat puisi yang
indah untuk mengkerdilkan teman yang menyakitinya. Karena dia pernah merasa
tersakiti oleh nurani. “perlu kamu tahu ya, kamu adalah makhluk rendahan yang
menginginkan segala sesuatu hingga aku tak mampu membedakan mu dengan tamak. Apakah
kamu benar keinginan yang aku kenal selama ini? Kenapa kamu seperti tamak dan
serakah yang mengambil segala sesuatu yang bisa kamu ambil. Bukankah itu sangat
egois sekali? Tidak sadarkah kamu bahwa keegoisan dapat menghancurkan sebuah
tali persahabatan bahkan tali persaudaraan?” itulah yang dikatakan nurani
kepada keinginan. sehingga keinginan sangat membenci nurani. “aku ngerti kok,
kamu adalah kamu. Kamu ga mungkin menjadi tamak ataupun serakah. Tapi, kamu
harus memahami kenapa nurani berkata seperti itu. Mungkin nurani sudah lelah
dengan tamak dan serakah, lalu melampiaskannya kepadamu. Itu juga bukan
sepenuhnya salah nurani. Kamu tahukan tamak dan serakah kadang juga terlahir
dari kamu. Terkadang kamu juga yang melahirkan tamak dan serakah. Kita sama-sama
mengoreksi dirilah. Kamu juga harus berusaha agar tamak dan serakah tidak terlahir,
agar nurani juga tidak kesal kepadamu. Kamu ngerti kan?” keinginan menjawab
dengan sewot “jadi kamu berpihak pada nurani?” “bukan begitu, kita harus
melihat segala sesuatu dari kacamata objektif agar pikiran menjadi jernih dan
kita dapat mengambil keputusan yang tepat. Karena, saat kita mengmbil keputusan
dalam kondisi marah atau terlalu senang pastilah hasil keputusan tersebut
kurang baik. Kamu ngerti kan? Jadi fokus puisi kita cukup pada keindahan saja,
bukannya untuk mengkerdilkan nurani” kataku dengan sabar. Segera aku carikan
referensi puisi puisi yang indah untuk mengobati keinginan. Aku pelajari ciri
ciri puisi yang indah. Aku cari arti dari keindahan. cukup lama waktu yang aku
habiskan untuk riset tenang puisi indah. Dari semua pengetahuan yang aku dapat,
aku diskusikan dengan keinginan. Kami tenggelam dalam hangatnya percakapan
hingga tak terasa waktu 2 sampai 3 jam kita habiskan dalam kehangatan tersebut.
Sungguh suasana yang indah dan nyaman menyelimuti kami. Aku tak akan pernah
melupakan suasana dan momen itu. Hingga munculah sebuah mahakarya yang luar
biasa. Kami sangat mencintai karya tersebut. Kami selalu menikmati karya kami
tersebut setiap waktu. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam berlalu
dengan kenikmatan karya yang telah kami ciptakan. Setiap makan kami menikmati
karya tersebut. Bahkan dalam lamunan kami juga masih menikmati karya tersebut.
Dia
juga pernah memintaku untuk meninggikannya. “aku ingin punya masa depan, aku
tak mau dipandang remeh. Aku ingin membuat kedua orang tuaku bangga. Menurut mu
bagaimana? Apakah kita bisa mencapai semua itu?” tanya keinginan kepadaku. “ingat
ya, meninggikanmu terlalu tinggi dapat melahirkan kesombongan. Kamu sadarkan
dengan hal itu?” itu kalimat pertama yang terucap dariku saat aku melihat
terdapat indikasi bahwa keinginan akan melenceng dari jalurnya. “sedih banget
tau kamu bilang gitu. Tapi oke deh, aku ngerti kok... ga bakal deh kesombongan
lahir karena permintaanku.. aku janji..” Dengan percaya diri aku sampaikan
kepada keinginan “okelah kalau begitu, semua itu bisa direncanakan, untukmu
apapun aku lakukan. Tetapi ada beberapa pertimbangan yang tidak bisa aku ambil
sendiri, ini butuh proses yang lama, apakah kamu yakin mau menunggu proses yang
begitu lama?” “tak masalah, asalkan bersamamu aku merasa tenang. Waktu hanyalah
lintasan yang pada akhirnya akan berakhir pula” sahut keinginan dengan nada
penuh harap dan kenyamanan. Segera aku buatkan segala yang dibutuhkan untuk
meninggikan keinginan. Ini adalah sesuatu yang tidak mudah. Kita perlu berlatih
bersama, ini akan menjadi siksaan yang cukup besar bagi keinginan. Tapi aku
yakin, aku bisa menenangkan keinginan. Karena ini adalah kemauannya sendiri.
Aku
mulai mendisiplinkan diri. Aku mulai hari ku di pagi-pagi buta. Aku mulai
belajar dengan giat. Aku mencari tips-tips untuk mencapai tujuan. Aku juga
meminta keinginan untuk berserah diri terhadap apapun yang terjadi. Aku meminta
kenginan agar menguatkan keyakinannya kepadaku. Aku mencari-cari beasiswa agar
tujuan ku tercapai. Kutemukan beberapa opsi yang bisa aku jalankan untuk
mencapai tujuan. Aku terus memperkaya opsi agar tujuan dapat aku bidik dengan
berbagai cara. Apabila cara pertama tidak tepat sasaran aku masih punya banyak opsi
untuk membidik tujuan tersebut. Setelah aku kumpulkan, aku mendapatkan sekitar
7 opsi. Opsi pertama sudah coba ku lalui dan ternyata bidikan ku meleset. Opsi ku
tinggal 6, aku harus memanfaatkan dengan baik 6 opsi terakhir ku. Aku gunakan 2
opsiku secara bersamaan untuk membidik tujuan. dan segera aku menyungkurkan
diriku ke hadapan rabb ku setelah mengetahui 2 bidikanku mengenai sasaran. Berulang
kali aku bersujud ke pada rabb ku untuk menunjukkan rasa syukur dan bahagiaku
karena tujuan tersebut tercapai. Ku ceritakan semua ini dengan sukacita kepada
keinginan. Segera aku peluk keinginan dan ku bisikkan ketelinga nya lembut dan
penuh kasih “tahap pertama untuk mencapai tujuan kita sudah tercapai, aku yakin
kita dapat melalui ini semua dengan mudah. Meskipun masih banyak tahap yang
perlu kita lalui bersama. Bersabarlah wahai keinginan, kita pasti bisa
mencapainya bersama. Aku ingin, kamu terus mendukungku dan memperhatikan setiap
langkahku. Karena setiap langkahku aku persembahkan hanya untukmu” tanpa sadar
keinginan meneteskan air mata bahagia dan harunya dan menganggukkan kepalanya
tanda persetujuan.
Tergores
kuat dalam ingatan keinginan menyampaikan kepada ku “sepertinya kita haus
menjadi pribadi tangguh, mandiri, dan pekerja keras. Itulah yang mau aku lihat
pada semua mata melihatku. Menurutmu bagaimana akal? Apakah kita bisa?” “em,,,
gimana ya, pr kita masih banyak nih. Tapi untukmu apapun aku lakukan. Bentar ya
aku rencanakan dulu, bagaimana cara meraihnya” sahutku sambil melihat
sudut-sudut ruangan mencari ide. Ku kumpulkan segala informasi yang ada dan
mulai menganalisa kemungkinan kemungkinan yang bisa dilakukan. Hingga aku putuskan
untuk berjualan roti sambil ngampus. Saat berjualan banyak kerjasama yang saya
lakukan, aku mulai bekerjasama dengan pengetahuan dan mental. Yang paling
mendukungku dalam berjualan adalah mental. Banyak pembelajaran yang didapatkan
dari mental. Sungguh perjalanan yang luar biasa. Satu lagi tujuan ku dan
keinginan sudah tercapai. Keinginan memelukku dari belakang dan membisikkan ke
telingaku “terimakasih, aku bangga punya kamu” entah kenapa setiap momen yang
seperti ini pelukan adalah bahasa yang tepat untuk menyatakan kasih sayang yang
kami rasakan.
Itulah
keinginan, Dia selalu berterimakasih atas setiap jalan yang aku berikan. Terkadang,
aku harus memarahinya untuk menunjukkan jalan yang lurus,,, sakit, itulah yang
aku rasakan saat mematahkan keinginan yang menyesatkan. Walaupun begitu, aku
tetap ingin melihatnya bahagia dengan segala apa yang dia miliki. Ingin rasanya
kuberikan segala apa yang ku milliki untuk membuatnya bahagia.
Itu
semua sudah terjadi, kami bukan siapa-siapa lagi. Sekarang, Aku hanyalah penonton
yang melihat indahnya perjalanan keinginan dalam menemukan kebahagiaan. Aku bukan
siapa-siapa lagi. Tak ada lagi keinginan yang selalu mendengarkanku. Aku hanyalah
sampah yang tak berguna dengan cintaku yang tak tergantikan kepada keinginan. Itulah
keinginan, mungin ini waktu bagi keinginan tidak lagi mau didekte. Dia sudah
dewasa dengan segala apa yang dimilikinya. Akulah akal yang selalu ada apabila
keinginan membutuhkanku. Saat ini, aku tak lagi berguna. mengubur diriku ke
tempat yang tak pernah dijamah oleh siapapun mungkin adalah pilihan terbaik.
Kacamata Keinginan
“kenapa
sih kamu terus mengikuti ku? Capek tau, aku mau bebas, kamu ga ada kerjaan ya? Kamu
tau sumpek ga sih? Aku risih tau.”
“ga
tau kenapa, aku suka sama kamu. Salah ya aku suka sama kamu? Aku pengen ikut
kemanapun kamu pergi. Bersamamu, aku merasa diperhatikan, bersamamu aku merasa
ada. Bersamamu aku diakui. Tak ada orang lain yang mau mengakui keberadaanku
sebesar kamu. Aku ga mau jauh dari kamu.” Jawab penyesalan.
Itu
perdebatan yang sering terjadi antara aku dengan penyesalan. Ternyata berpisahnya
aku dengan akal malah menambah masalah baru. Aku mengiria akan merasa bahagia saat berpisah
dengan akal. Saat bersama akal dia terus mengatur-atur ku. Aku tahu tujuannya
baik, tapi ya ga segitunyalah seharusnya. Aku juga punya keinginan untuk bebas.
Sebenarnya, perpisahanku dengan akal dipicu oleh kecemburuanku terhadap akal. Terkadang
aku melihat akal berjalan dengan penyesalan. Puncak perpisahan kami juga
terjadi saat akal semakin sering jalan bersama dengan penyesalan.
Sekarang,
aku tahu rasanya diikuti oleh penyesalan. Inilah yang dirasakan oleh akal, tapi
aku tak mau mengerti apa yang dirasakannya. Seharusnya kami saling memahami
agar tidak terjadi masalah-maslah seperti ini. Dari pada aku harus bersama
dengan penyesalan. Mungkin ada baiknya aku mulai merajut kembali hubungan ku
dengan akal. Aku yakin akal akan menerimaku. Karena, aku tahu akal akan terus
ada untukku.
“akal...
akal... dimana kamu??? Aku merindukanmu... aku janji aku akan selalu
mendengarkanmu. Aku janji kita akan menjadi pasangan yang terbaik yang pernah
ada” “keinginan,,, itukah kamu?” jawab akal. “Aku menunggumu keinginan. Tanpamu,
aku tak tau harus kemana. Tak ada lagi tujuan yang mampu menggerakkanku. Karena,
kamu adalah tujuanku. Apakah ini akan menjadi cerita baru bagi kisah kita? Terimakasih
keinginan karena telah mempercayakan dirimu pada ku. Takkan ku sia-siakan kepercayaan
yang telah kau berikan padaku. Akan ku tunjukkan jalan yang indah. Yang belum
pernah kamu lewati. Akan aku buat jalan yang kita lewati bagai jalan menuju ke
surga karena keindahannya. Sungguh cintaku padamu melampaui apapun yang ada di
dunia ini. Kita akan berjalan dalam keharmonisan. Berilah aku masukan jika
jalan yang aku berikan mematahkan hatimu. Sungguh, tak ada niatan sedikitpun
untuk melukaimu. Aku hanya ingin kita bisa berjalan beriringan untuk menggapai
mu. Tegurlah aku saat aku terlalu keras saat meluruskanmu. Sungguh kebahagiaanmu
adalah tujuan terbesarku.”
Kacamata Penyesalan
tak
seorangpun mau menerima keberadaanku. Aku adalah ketiadaan. Semua itu terasa berbeda
saat aku mengenal akal. Aku sering mengikuti akal. Sering kali aku mengganggu
akal saat dia sedang luang. Aku sering menghampirinya, yang membuatku senang
adalah dia menganggap keberadaanku. Itu membuatku merasa ada dan berniali. Kami
sering ngobrol bareng. Mungkin dia tidak mau mengobrol denganku. Dalam keadaan
terpaksa, diapun mau berbicara dengan ku. Aku anggap itu sebagai obrolan yang
mesra, meskipun itu lebih ke pemaksaan. Biarlah aku memaksanya, karena dengan
begitu aku merasa ada dan bernilai. Semakin ke sini, semakin aku mengenali
akal. Aku tau kapan aku bisa memaksanya untuk akrab denganku dan aku tahu kapan
dia sama sekali tidak mau aku ganggu. Aku merasakan sakit yang luar biasa, saat
akal selalu mencari soulusi agar dapat membahagiakan keinginan. Tapi, aku tahu
bahwa rasa sakit itu lebih baik dari pada rasa ketiadaan dan rasa tidak
bernilai. Meskipun aku merasa sakit, tapi keberadaanku masih diakui walaupun
sangat sedikit. Akal, aku ingin kamu tahu. Bahwa aku sangat senang sekali kamu
bertengkar dengan keinginan. Ingin aku berteman dengan mu dengan seutuhnya. Tapi
apa daya, cintamu terhadap keinginan jauh lebih besar dari apapun. Kamu terus
menghormatinya walaupun kamu direndahkannya. Kamu terus mencintainya walupun
ribuan pisau mengarah ke dadamu. Aku tahu, keinginan adalah tujuanmu. Karena itu,
kamu rela mengubur dirimu ke tempat yang tak seorangpun tau agar keinginan
dapat bebas dan mendapatkan kebahagiaannya. Aku kira ini adalah akhir dari
dariku juga. Karena hanya kamulah temanku.
Hari
demi hari terlewati dengan kekosongan. Aku merasa hampa, aku merasa tiada. Sungguh
ketiadaan adalah kondisi yang sangat menyeramkan. Setelah kepergian akal dalam
kuburnya. Kucoba dekati keinginan. Aku mulai mengikutinya kemanapun ia pergi. Aku
belum bisa mengajaknya berkomunikasi. Tapi setidaknya dengan terus mengikutinya.
Dia akan merasakan keberadaanku. Hari itupun tiba juga. Kami bisa saling
mengobrol. Dan ternyata, keinginan lebih mudah menerimaku dari pada akal. Keinginan
tidak pernah mencari solusi saat bertemu denganku. Keinginan justru menikmati
segala situasi yang aku ciptakan. Padahal solusi adalah salah satu yang
membuatku merasa sakit. Aku merasa aku tak ada jika solusi hadir. Sukurlah,
mungkin ini adalah jalan terbaik untukku. mungkin keinginan adalah pasangan
sejatiku.
Hingga
pada titik tertentu, keinginan benar-benar menjadi teman sejatiku. Dibalik itu
semua, keinginan mulai sadar. Bahwa hidupnya tidak lebih baik dari sebelumnya. Saat
ini lah, keinginan mulai menolak ku. Semenolak-menolaknya keinginan masih lebih
baik daripada semenerima-nerimanya akal. Karena, saat akal sudah mulai
menerimaku, akal langsung segera mencari solusi. Dan itu adalah rasa sakit yang
sangat luar biasa. Sungguh keberuntunganku dapat bertemu dan berteman dengan
keinginan.
Ternyata tidak sampai disini saja keinginan menolakku. Keinginan akan memanggil akal kembali. Walaupun bagitu, aku tetap senang. Setiadaknya ada yang lebih mudah dipengaruhi dari pada akal yaitu keinginan. Jika sebelumnya dalam hubungan akal dan keinginan. aku bertemu dengan akal dan akal selalu menyiksaku dengan segala solusi yang ia cari. Maka aku tidak akan pernah tersakiti oleh keinginan. Karena keinginan tidak pernah mencari solusi. Yang keinginan cari hanya akal. Karena akal yang akan membimbingnya ke jalan yang lurus. Meski keinginan selalu melalui jalan yang lurus. Aku yakin sangat bisa sekali berteman dengan keinginan. Akal akan terus membuatmu merasa sakit karena akal akan terus meluruskanmu. tapi aku akan selalu ada pada dirimu yang selalu menemanimu untuk terus membuat dirimu merasakanku setiap saat. Selamat keinginan, sekarang kita akan berteman untuk selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar